ini bukan facebook

Jiwa Online
Pemilik Blog: Ampuan Awang  Berkhidmat dalam: Kerajaan Malaysia (Tukang Kebun). Mana tinggal? Di Kepala Batu, Antartika Edit Profile
  Post To:
anyone or anywhere  

Mengira Dosa Sendiri Bukanlah Pekerjaan Yang Mahasia-sia


~ Mengira Dosa Sendiri Bukanlah Pekerjaan Yang Mahasia-sia ~

MENGIRA pasir di pantai sememangnya suatu pekerjaan yang mahasia-sia. Akan tetapi pekerjaan yang mahasia-sia itulah yang diperbuat selalu dek sang sufi. Hari demi hari berulang-ulang kali berpatah dari dua tempat, semata-mata hendak berhitung pasir.

Adapun perbuatan mahasia-sia ini diperhatikan oleh seorang pemuda. Hampir setiap hari saat sang sufi keluar rumah berlangkah menuju pantai, langkah sang sufi diekori oleh sang pemuda kadang rapat dan kadang agak jauh dijarakkan agar intipannya tidak terhidu dek hidung sang sufi yang khusyuk dan asyik maksyuk ... mengira pasir!

Entah berapa lama dan berapa kali pemuda itu melakukan intipan, namun tetap tidak mampu dirinya fikirkan sebab musabab dan apakah hasil yang diperoleh dengan mengira pasir yang tak terhitung banyaknya. Lalu, dengan tiba-tiba sang pemuda meluru ke hadapan; menuju ke tempat di mana sang sufi ligat mengira butir halus longgokan pasir. Sang pemuda memberi salam,

"Assalamu'alaikum, tuan sufi yang berbuat hal mahasia-sia," salamnya baik, isinya mengandung ejek

"Alaikumussalam," balas sang sufi tanpa menghiraukan ungkapan berbau ejekan itu

"Tuan sufi mahasia-sia sedang berbuat apa? Tidakkah tuan sedar bahawa tuan sedang melakukan pekerjaan yang mahasia-sia? Mengapa pasir sebegini banyak tuan sufi hitung? Apakah tidak ada pekerjaan lain yang lebih murni dan bermanfaat daripada perbuatan ini?" tanya sang pemuda

Tidak ada balasan.

Angin dari wilayah utara singgah menyapa tubuh kedua-dua hamba Allah ini.

Sepi lagi. Diam. Dan kemudian, sang sufi menepuk-nepuk kedua belah tangannya.

Sambil memandang sayu ke arah wajah sang pemuda tadi, sang sufi bersuara,

"Apakah menjadi suatu pekerjaan yang sia-sia andai aku datang ke sini, mengira pasir yang aku ibaratkan seperti sedang mengira berapa banyak dosaku terhadap Tuhanku dan saudara-saudara seaqidah dan sesama makhluk yang hidup di sekelilingku? Pada mulanya aku membayangkan dua keadaan dalam hitung kiraku iaitu, pertama, aku membayangkan bahawa aku sedang menghitung harta kekayaanku, namun setelah usai menghitung terlintas pada fikiranku, bermaknakah lagi harta kekayaan yang kuperolehi jikalau diriku ini tiada lagi?

Kedua, kerana diriku sudah beralah dengan harta kekayaan, aku mula menghitung kembali segala dosa-dosaku, namun semakin lama kukira semakin bertambah banyak; tidak pula berkurang barang sedikit. Hal inilah yang membuatkan aku sering berendam air mata, dan kelopak mataku tidak mampu menahannya daripada terbit dari tubir mata. Daripada aku menyibukkan diri mencari kesalahan orang lain, bukankah lebih baik aku mencari kesalahanku sendiri? Benarkah begitu, wahai pemuda? Sependapatkah engkau dengan pendapatku ini?"

Sang pemuda yang sedari tadi tegak tidak berganjak dari tempatnya berdiri, terus tegak berdiri bagai piala batu. Dadanya berombak, sementara degup jantungnya kian pantas. Hampir sahaja dirinya jatuh terjelapak di lantai pasir di tepi pantai ... tempat di mana sang sufi sibuk mengira akan dosanya sendiri sebelum dirinya mati dan kembali ke pangkuan Ilahi. Apakah menjadi suatu kesalahan andai mengira pasir yang sekadar kias ibarat demi menghitung dosa sendiri?

Diam ...

## A.A

2 comments :

luahfikiran ... mari kita said...

Salam,
Seharusnya kita bermuhasabah sentiasa .. kita ni hamba yg kerdil yg byk melakukan dosa

Ampuan Awang said...

Salam kembali tuan,

ya, sebaiknya begitu. semoga kita menjadi lebih baik hari demi hari hendaknya

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
      faceblog © 2013 · re-designed by J. KingRaja           About · Advertising · Create a Page · Developers · Careers · Privacy · Terms · Faceblog Creator · Back to Top