ini bukan facebook

Jiwa Online
Pemilik Blog: Ampuan Awang  Berkhidmat dalam: Kerajaan Malaysia (Tukang Kebun). Mana tinggal? Di Kepala Batu, Antartika Edit Profile
  Post To:
anyone or anywhere  

“LAGU SERULING” RUMI (Oleh: Prof. Abdul Hadi W.M)

Abdul Hadi W. M. 

            Dengar lagu seruling bambu menyampaikan kisah pilu perpisahan;
Tuturnya, "Sejak aku berpisah dengan asal-usulku pokok bambu yang rimbun, ratapku membuat lelaki dan wanita mengaduh.
            Kuingin sebuah dada koyak sebab terpisah jauh dari orang yang dicintai, dengan demikian dapat kupaparkan kepiluan berahi cinta.
            Setiap orang yang hidup jauh dari kampung halamannya akan merindukan saat-saat tatkala dia masih berkumpul dengan sanak keluarganya..
            Nada-nada senduku senantiasa kunyanyikan dalam setiap majlis pertemuan, aku duduk bersama mereka yang riang dan sedih.
            Rahasia laguku tidak jauh dari asal-usul ratapku, namun apakah ada  telinga yang mendengar dan mata melihat?
            Tubuh tak terdinding dari roh, pun roh tak terdinding dari tubuh, namun tak seorang diperbolehkan melihat roh.
            Bunyi suling yang riuh ialah kobaran api, bukan desir angin yang berhembus: mereka yang tak mempunyai api akan sia-sia hidupnya.
            Inilah api Cinta yang tersembunyi dalam suling bambu, inilah bara semangat Cinta yang dikandung anggur.
            Suling ialah sahabat mereka yang terpisah dari sahabat karibnya: lagunya menyayat kalbu.
            Siapa pernah melihat racun dan obat penawarnya sekaligus seperti suling? Siapa pernah menyaksikan orang berkabung dan pencinta menuturkan rindu dendamnya seperti suling?
            Suling menyanyikan kisah jalan tergenang darah dan menyingkap lagi rindu dendam Majenun.
            Hanya untuk mereka yang tidak mengerti pemahaman dan kepahaman disampaikan: lidah tak mempunyai pelanggan selain telinga.
            Dalam pilu hari-hari hayat kami berlalu tak kenal waktu: hari-hari kami berjalan bersama kepiluan membara.
            Kalau hari-hari kami mesti pergi, biarlah ia pergi! Kami tidak peduli. Kekallah Kau, sebab tiada sekudus Kau.
            Mereka yang tidak  puas pada air-Nya bukanlah ikan: mereka yang tidak punya roti untuk makanan sehari-hari akan merasa betapa lamanya detik-detik waktu berjalan.   
            Tidak ada barang mentah yang mengerti makna kemasakan; karena itu kini akan kuringkas kata-kataku! Selamat tinggal!
            Anakku, patahkan belenggu yang mengikatmu dan bebaskan dirimu! Berapa lama kau akan terikat pada perak dan emas?
            Apabila air laut kautuang ke dalam kendi, berapa teguk yang dapat ditampung? Paling-paling hanya cukup untuk minuman sehari..
            Kendi itu, mata yang tak pernah kenyang itu, tak akan pernah penuh: ingatlah, kerang tidak akan berisi mutiara sebelum  dirinya penuh.
            Dia yang meminjamkan jubahnya dengan rasa cinta akan bersih dari ketamakan dan kekurangan.
            Selamat datang, o Cinta yang memberi keberuntungan indah -- Kaulah tabib segala sakit kami, pemulih keangkuhan dan kesombongan, Filosof dan Dokter kami!
            Dengan Cinta tubuh tanah liat ini dapat terbang ke angkasa raya, mikraj: gunung menari dan tangkas geraknya--
            Cinta menurunkan ilham kepada gunung Sinai, o Pencinta, karena itu gunung Sinai mabuk dan "Musa jatuh pingsan"
            Apabila aku mengikuti bibir yang sehaluan denganku, aku akan seperti suling, menazamkan semua yang dapat kunazamkan.
            Tetapi dia yang dipisahkan darinya akan membisu, walaupun tahu ratusan syair dan gurindam.
            Apabila mawar pergi dan taman lenyap, kisah burung bulbul tak akan terdengar lagi olehmu.Kekasih ialah segala-galanya, dan pencinta ialah tabirnya;
Kekasih ialah hidup dan pencinta itu benda mati. Kalau Cinta tak mempedulikannya, jadilah dia  burung tanpa sayap.
            Bagaimana kesadaran ada di depan dan samping, jika Cahaya Kekasihku tidak ada di depan dan sampingku?
            Cinta ingin Dunia ini dijelmakan: jika cermin tak memantulkan bayangan, apa sebabnya?
            Tahukah kau mengapa cermin jiwa tak memantulkan satu pun bayangan? Kerana karatnya tidak dibersihkan.
            O Sahabat, dengar kisah ini: hanya dalam Kebenaran sumsum keperiadaan roh kami terkandung.


KETERANGAN:             Matsnawi-i  Ma`nawi adalah karya agung sufi masyhur Jalaluddin Rumi (1207-1273). Ia dianggap sebagai salah satu karya masterpiece bukan saja dalam kesusastraan Persia, tetapi dalam kesusastraan dunia. Kitab yang terdiri dari enam jilid, dan masing-masing jilid lebih kurang terdiri dari 350 halaman dalam terjemahan Inggeris atau Indonesianya itu, dibuka dengan Doa dan pujian kepada Tuhan serta salawat kepada Nabi Muhammad s.a.w. ”Lagu Seruling” merupakan bagian awal dari kitab ini. Bagian ini berkaitan dengan Sama’ atau konser musik kerohanian Tariqat Maulawiyah yang didirikan oleh murid-murid Rumi dalam rangka mengabadikan pesan kerohanian dari kitab agungnya ini. Dalam upacara yang disebut Tahtu Sama’  dan disertai dengan Tari Gasing atau tari yang berputar-putar itu, baris-baris puisi Rumi dibacakan diiringi suara seruling.

Seruling adalah lambang roh dan jiwa manusia yang terpisah dari asal-usul ketuhanannya, seperti seruling yang terpisah dari induknya batang bambu di hutan. Lagu merdu yang lahir daripadanya timbul dkarena kerinduannya yang mendalam untuk bersatu dengan asal-usul kerohaniannya. Dari sini kemudian lahir legende tentang Buluh Perindu seperti didapati di kalangan orang Melayu dan Minangkabau. Saluang Minang misalnya adalah perkembangan lanjut dari tradisi yang diletakkan oleh Rumi, yang menempatkan seruling sebagai alat musik utama dalam orkestra sufi. Alat musik lain yang juga dianggap penting ialah biola, rebab dan gendang.

Suara biola yang sendu dan menyayat diumpamakan sebagai kerinduan senar biola, yang dibuat dari kulit kambing, untuk bersatu kembali dengan kambing. Begitu pula dengan bunyi kendang yang keras menyentak adalah ekspresi kerinduan spiritual yang sama.

Tari gasing atau berputar-putar dalam lingkaran itu sendiri melambangkan peprutaran planet di angkasa raya mengelilingi sumbunya Matahari. Karena itu dalam tarian ini Sang Syekh berada di tengah lingkaran. Sufi memberi istilah lingkaran dalam tarian ini sebagai ”Dairah HU” (Lingkaran Dia). Kata ”Hu” adalah sebutan tertinggi untuk Tuhan yang artinya ”Huwa”. Kkata-kata Hehova atau Yahwe dalam bahasa Ibrani berkatan kata Huwa dalam bahasa Arab seperti yg disebutkan. Tari berputar-putar juga lahir diilhami upacara thawaf atau mengelilingi Ka’bah yang dilakukan oleh setiap orang yang menunaikan ibadah haji atau umrah.

++ Nota: Ucapan setinggi-tinggi terima kasih buat bapak Prof. Abdul Hadi W.M atas perkongsian ilmu ini.

1 comments :

Mknace said...

:) :) :)
terbaeekkk!!!!

singgah dari mknace unlimited

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
      faceblog © 2013 · re-designed by J. KingRaja           About · Advertising · Create a Page · Developers · Careers · Privacy · Terms · Faceblog Creator · Back to Top