ini bukan facebook

Jiwa Online
Pemilik Blog: Ampuan Awang  Berkhidmat dalam: Kerajaan Malaysia (Tukang Kebun). Mana tinggal? Di Kepala Batu, Antartika Edit Profile
  Post To:
anyone or anywhere  

Bingkisan Muharam: Sajak-sajak Sufi Pada Zaman Awal

SAJAK-SAJAK  SUFI PADA ZAMAN AWAL

Abdul Hadi W. M.

 Mansur al-Hallaj

 TIADA LAGI

Antara aku dengan yang Haq
Tiada lagi yang tinggal
Bukan dalil, bukan keterangan
Bukan bukti atau petunjuk akal

Segala sinar lenyap
Diusir oleh sinar-Nya
Yang Haq tampil nyata
Dengan sinar benderang

Tak seorang dapat mengenal Tuhan
Selain yang mengenal-Nya
Akankah yang kekal dikenal
Selain oleh yang memfanakan dirinya?

Tak dalam ciptaan Tuhan dikenal
Mungkinkah yang sekejap
Bisa memberi keterangan
Tentang yang baka?

Petunjuk tentang Dia
Dan jalan menuju kepada-Nya
Adalah orang yang telah menyaksikan
Yang kalbunya mendapat keterangan

Petunjuk tentang Dia
Dan berada bersama-Nya
Sungguh telah kukenal
Hanya makrifat yang menjelaskan

Inilah wujudku, kata-kataku
Inilah keyakinanku
Inilah imanku yang takkan hapus
Inilah kemanunggalan tauhidku

Inilah pelajaran
Dari orang yang menyatu
Yang punya pengetahuan
Tentang yang rahasia dan yang nyata

Inilah wujud
Dari segala wujud
Yang mempertemukan
Kawan dan lawan bersama-sama

 KULIHAT TUHAN

Kulihat Tuhan dengan mata kalbuku
Kulihat: “Siapa Kau”. Katanya: “Kau”.
Namun  bagi-Mu “di mana”  tiada bertempat
Dan tiada “di mana” jika mengenai-Mu.
Jiwa tidak memiliki taswir tentang keberadaan-Mu
Dalam waktu, yang membuat
Pikiran tahu di mana Kau
Kau adalah dia yang mengendalikan setiap “di mana”
Atas titik tidak di mana
Maka di mana Kau?

Rabiah Al-Adawiyah

SENDIRI DENGAN KEKASIH

Sendiri daku bersama cintaku
Ketika rahasia lebih lembut dari udara petang
Lintas di depanku dan Penglihatan Batin
Mencurahkan rahmatnya atas doaku
Memahkotaiku, hingga enyahlah yang lain, sirna.
Ada pun daku: Antara takjub
Pada Keindahan dan Keagungan-Nya
Di tengah  semerbak wangi tanpa tara
Terpaku dan membisu, begitu khyusuk
Kusaksikan semua yang datang dan pergi dalam kalbu
Lihat, dalam wajah-Nya
Semua yang mempesona dan kemurahan
Seluruh keindahan bercampur dan menyatu
Dalam wajah-Nya yang sempurna
Lihat Dia dan dengar katanya
“Sungguh, tiada Tuhan selain Dia
Dan hanya Dia yang maha mulia.”



TIADA LAIN DI SISIMU

Wahai Rasa-riangku, wahai Kerinduanku,
Ya Naungan dan Lindunganku
Sahabat, Penyanggah penopangku dan Tujuanku pula
Kaulah karibku, dan rindu pada-Mu
Membuatku teguh
Apa bukan pada-Mu  aku ini merindu?
O Nyawa dan Sahabatku
Aku remuk di rongga bumi ini
Telah banyak kurnia Kauberikan
Telah banyak
Namun tak kuperlukan kurnia atau pahala
Pemberian atau  pertolongan
Cinta-Mu semata yang kurindu
Meliputi rindu dan bahagiaku
Mengalir dalam mata hatiku yang dahaga
Adapun di sisi-Mu, aku telah tiada
Dada kerontang kaubikin jadi padang luas hijau
Kaulah rasa-riangku
Kaulah yang berdiri megah dalam diriku
Jika kehendak-Mu telah kupenuhi
Wahai Kerinduan hatiku, aku pun akan bahagia


Anshari

HANYA KAU

Di tubuh ini hidup hanya tergetar oleh-Mu
Hatiku berdebar-debar mengikuti kehendak-Mu
Bila seikat rumput tumbuh atas tanahku
Setiap belati akan gemetar oleh taqwaku kepada-Mu


TUHAN, MABUKKANLAH AKU

Tuhan, mabukkanlah aku
Dengan anggur cinta-Mu
Rantai kakiku ini erat-erat
Dengan belenggu penghambaan
Kuraslah seluruh diriku
Kecuali cinta-Mu
Lalu recai daku
Hidupkan lagi diriku
Laparku yang maha pada-Mu
Telah membuatku
Berlimpah karunia


DI JALAN INI

Di jalan ini hentikan matamu memandang
Telingamu mendengar
Berlindunglah kepada-Nya, merapatlah ke sisinya
Jadilah debu di jalan-Nya
Di seluruh bumi, raja-raja pun
Menjadikan debu kaki-Nya
Pembalut mata mereka


OH, TUHAN

Oh Tuhan, jangan lempar
Lampu yang memudar letih ini
Jangan buang hati ini oleh-Mu
Dalam kobaran api hawa nafsu

Oh Tuhan, jangan tukar
Layarku yang tambal sulam ini
Jangan seret jerit parauku
Dari sungai pengetahuan dan ilmu


NYALA CINTAMU

Tuhan, menemui-Mu
Adalah satu-satunya hasratku
Namun memahami-Mu
Jauh dari jangkauku
Mengingat-Mu adalah hiburan
Bagi hatiku rengsa
Membayangkan-Mu adalah teman setiaku
Kusebut nama-Mu berulang-ulang siang malam
Nyala cinta-Mu kemilau
Menerangi gelap malam-malamku

Junaid al-Baghdadi

Kini Kutahu

Kini kutahu, Tuhan
Apa yang bersemayam dalam hatiku
Tersembunyi dalam rahasia, jauh dari dunia:
Lidahku sedang bercakap dengan Dia yang kupuja!

Begitulah,  melalui jalan yang tersembunyi
Kami hampir ke sisi-Nya
Terpisah jauh dari-Nya, bagi kami
Adalah beban yang menyiksa

Walau  Kau sembunyikan wajah-Mu jauh-jauh
Dari pandang mataku, Kau dekat
Dalam asyik maksyuk, terasa
Kehadiran-Mu dalam relung kalbuku

Di tengah bencana yang dahsyat
Tak akan kusesali siksaan yang mendera jiwa
Hanya Kau Tuhan yang kurindu
Bukan kurnia atau tangan pengasih-Mu

Jika Kauberikan dunia ini padaku
Atau sorga sebagai pahala
Aku akan berdoa agar segala kekayaanku
Tak berharga dibanding melihat wajah-Mu


Sumnun

KANTUNG WAKTU

Dari kantung waktu telah kuminum
            Dan kuteguk segala riang dan duka
Pun telah kutindihkan mulutnya ke bibirku
            Kuhirup setetes demi setetes sampai habis
Dan ke dalam cawannya takdir menuangkan
            Duka yang kuminum, dari laut
Sabar-sabarku  telah kutuang penuh
            Dan kutawarkan lagi kepada sang takdir
Dengan sabar aku dilayani, lantas menggelinding
            Saat bergantungan, hingga aku pun berseru:
“Sabarlah kau wahai Jiwaku!”
            Atau binasa dalam dukacita!”
Deritaku menjulang begitu tinggi, hingga
            Puncak-puncak gunung gemetar
Namun bagai bintang nun jauh, segera ia
            Pun pudar dan lenyap dari pandang.


Abu Said

INDAH

Segala perjalanan menuju Kau, indah
Segala wajah menatap wajah-Mu, indah
Segala mata memandang sinar-Mu, indah
Segala kata mengulang nama-Mu, indah


SAJAK

1.
Aku seekor singa. Macan tutul buas waspada
Takut kuburu. Aku menaklukkan di mana-mana
Namun sejak Cinta-Mu kutarik ke dalam kalbuku
Rusa-rusa pun dapat mengusirku dari hutan belantara

2.
Waktu kubuka mata,  seluruh Keindahan-Mu kulihat
Rahasia kusampaikan pada-Mu, aku dipeluk dengan erat
Mengatakan cinta kepada yang lain, haram bagiku
Kala dengan-Mu bercakap, mulutku terkunci tak bisa mengucap

3.
Tanpa Kau, Kekasih, tidaklah tenteram aku
Kurnia-Mu padaku, sungguh  tidak terkira
Karena Kau setiap bulu di tubuhku jadi lidah
Ribuan ucapan syukur tak dapat kuserukan


Abdul Hadi W. M.

Nota: Terima kasih buat Bapak Prof. Abdul Hadi W.M atas nota ini.

0 comments :

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
      faceblog © 2013 · re-designed by J. KingRaja           About · Advertising · Create a Page · Developers · Careers · Privacy · Terms · Faceblog Creator · Back to Top