ini bukan facebook

Jiwa Online
Pemilik Blog: Ampuan Awang  Berkhidmat dalam: Kerajaan Malaysia (Tukang Kebun). Mana tinggal? Di Kepala Batu, Antartika Edit Profile
  Post To:
anyone or anywhere  

Bingkisan Muharam: Jejak Parsi Di Dunia Melayu



JEJAK PARSI DALAM  SEJARAH
KEBUDAYAAN DAN SASTRA MELAYU

Oleh: Abdul Hadi W. M.

(Karangan ini terdiri dari tiga bagian. Bagian I adalah Gambaran Umum. Bagian II Kitab Taj al-Salatin dan Hikayat Amir Hamzah atau Serat Menak. Bagian III Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah atau Hikayat Sayidina Husen yang wafat di Tanah Kerbela dan melahirkan peringatan Asyura pada 10 Muharam tahun Hiriyah).

        Seperti sastra tulis dunia yang lain, sastra Melayu tumbuh dan berkembang sebagai hasil dari proses interaksi penulis-penulis Melayu dengan sumber-sumber dari luar. Interaksi itu berlangsung dalam jangka waktu yang panjang. Sumber-sumber luar sastra Melayu pada mulanya berasal dari India dan Jawa. Tetapi pada proses pembentukannya abad ke-13-17 M sumber-sumber luar itu terutama berasal dari sastra Arab dan Parsi.  Ini bukan suatu kebetulan, melainkan karena faktor sejarah yang tak terelakkan. Abad ke-12 dan 13 M ketika dunia pelayaran dan perdagangan antara kepulauan Nusantara dan Dunia Islam di Asia Barat atau Timur Tengah sedang pesat berkembang, para ulama, cendekiawan dan budayawan Parsi memainkan penting pula dalam penyebaran Islam dan tradisi intelektualnya.

Peranan orang-orang Parsi, di samping orang-orang Arab dan Turki serta India Mughal,  berlanjut dan semakin meningkat pada abad ke-15 – 17 M. Kala itu kesultanan Samudra Pasai (1270-1516), Malaka (1400-1511 M) dan Aceh Darussalam (1516-1700 M) sedang bangkit bersamaan  dengan dinasti-dinasti Turk Persia, kemudian Turki Usmani di Asia Barat,   Safawi di Iran, dan Dinasti Mughal di India.  Tersebarnya agama Islam di Asia Tenggara adalah berkat kehadiran dinasti-dinasti Turk, Persia dan Mughal itu yang kemudian merembet ke Dunia Melayu. Bersamaan dengan itulah kesusastraan Arab dan Persia tersebar ke bagian dunia Islam lain, termasuk Melayu. Karena maraknya perkembangan Islam itu diikuti oleh proses terbentuknya kebudayaan Melayu klasik, maka tak mengherankan jiwa Islam dan Melayu merupakan dua hal yang berkembang secara tak terelakkan (Marrison 1955; Johns 1961;  Uka Tjandrasasmita 2000;  M. Zafar Iqbal 2006: 25-60). Braginsky (1998) menamakan periode ini sebagai zaman klasik sastra Melayu, dalam arti mantapnya perkembangan dan jatidiri sastra Melayu.

         Bahwa sumber-sumber Parsi memainkan peranan menonjol bagi kebangunan sastra Melayu, terdapat banyak bukti yang sayangnya – walaupun bukannya tidak diketahui – kurang mendapat perhatian sarjana-sarjana sastra Melayu dan Indonesia. Begitu pula pengaruhnya yang cukup mendalam terhadap kebudayaan Melayu atau kebudahaan Islam Nusantara. Pengaruh Parsi itu tampak dalam doa-doa, upacara keagamaan dan kecenderungan pemikiran sufistik; dalam perbendaharaan kata, corak penulisan hikayat, puisi,  karya bercorak sejarah, adab, hukum kanun, dan risalah keagamaan yang lazim disebut sastra kitab. Dalam empat yang terakhir ini pengaruh Parsi tidak hanya dalam hal yang berkaitan dengan  gaya bahasa, tetapi juga estetika dan bahan verbal penulisan seperti contoh-contoh kisah yang diselipkan di dalam kitab-kitab tersebut.

        Dengan merujuk pada hasil penelitian M. Abd al-Jabbar Beg, Ibrahim Ismail (1989) menunjukkan bahwa tidak kurang 429 perkataan Melayu telah diserap ke dalam bahasa Melayu. Kata-kata serapan itu dijumpai dalam teks-teks Melayu Lama dan sebagian masih dipakai dalam bahasa Melayu sampai sekarang. Kata-kata tersebut mencakup istilah-istilah keagamaan, politik, pemerintahan, kemasyarakatan, perdagangan, sastra, seni, flora,  makanan, dunia pelayaran, dan lain sebagainya.  Di antara kata-kata itu ialah: agar, anyir, acar, badam, bakhtiar (nama orang), bazar (menjadi pasar), bazu (baju), bolur, bandar, cabok. Cap, daftar, darwisy, darya, dombe. Farman, farangi (Peringgi, maksudnya orang Perancis atau Portugis), ferhat (nama orang), farsakh, fehrest, firuze (batu pirus), gandum, hindustan, honar, jahan, jam kesykul, kolah (kolak), kucek (kocek, uang), kelasi, kismis,, qalamkar, kebab, qalamdan, kabin, khare (kari, kare), khane, khorma (kurma), kamar, kalandar, kootval, lasykar, mardan, mohr, nakhoda, narges, nesyan (nisan), nouruz  (tahun baru), pahlawan, panir, pari, rubah, syabasy, syah, sambal, sardar, syal, samsyir, syakar, sepahi, syalvar, sorme, saudagar, syahbandar, sombak, sardee, serdadu, tegang, tamsya, takhte (tahta), tiz, yazaman, zir, dan lain-lain.

           Kata-kata tersebut ada yang merupakan istilah dalam dunia pelayaran, perdagangan, pemerintahan, keagamaan, seni dan sastra. Aksara Arab Melayu yang disebut tulisan Jawi atau Pegon didasarkan pada tulisan Arab Parsi. Begitu pula jenis huruf Arab yang digunakan dalam kitab-kitab, yaitu nastaliq,  atau penulisan ayat al-Quran pada batu nisan makam-makam kuna yaitu kufi Timur, secara umum adalah tulisan yang sangat popular di tanah Parsi dalam zaman yang sama. Pengaruh Parsi juga tampaknya pada banyaknya makam raja-raja dan bangsawan Melayu abad ke-13 – 15 M yang pada batu nisannya memuat pahatan sajak Ali bin Abi Thalib. Batu nisan tertua yang memuat sajak Ali bin Abi Thalib ialah batu nisan makam Sultan Malik al-Saleh (1270-1292 M), pendiri kerajaan Islam awal Samudra Pasai (Ibrahim Alfian 1999; Abdul Hadi W. M. 2001)

           Ada juga makam yang unik di bekas tapak kerajaan Samudra Pasai, yaitu makam Husamuddin al-Nain (kadang juga dibaca Naina Husamuddin) yang wafat pada awal abad ke-15 M, sezaman dengan wafatnya Maulana Malik Ibrahim di Ampel Denta yang bentuk makamnya benar-benar bercorak Parsi. Pada batu nisan makam Husamuddin tertulis dua sajak Sa`di al-Syirazi, penyair Sufi masyhur abad ke-13 M dari Iran, dalam bahasa asli yaitu Parsi. Bersama-sama bukti tekstual  lain memperlihatkan bahwa sastra Parsi, sebagaimana sastra Arab, telah menjadi mata pelajaran penting di lembaga pendidikan Islam (Ismail Hamid 1983). Hikayat-hikayat Melayu Islam yang masyhur, telah dikenal di kepulauan Melayu pada abad ke-15 dan 16 M, juga menjadi saksi lebih jauh tentang kehadiran pengaruh Parsi pada masa awal perkembangan sastra Melayu hingga periode formatifnya .

Gambaran Umum

            Tidak mudah memang menunjukkan bagaimana proses kehadiran teks-teks keagamaan dan sastra dari Parsi dalam periode awal bangkitnya sastra Melayu. Persoalannya karena teks-teks Melayu klasik yang sampai kepada kita sekarang ini pada umumnya berasal dari naskah yang disalin pada abad ke-16 dan 17 M, zaman maraknya perdagangan kertas dan alat tulis yang lebih bermutu dan tahan lama.  Akan tetapi tidaklah begitu sukar memahami mengapa sejak awal penyebaran Islam di Nusantara, sumber-sumber Parsilah yang dominan sebagai sumber rujukan dan acuan penulisan kitab keaagamaan dan sastra.

            Ketika perlembagaan Islam mulai tumbuh pada abad abad ke-13 – 15 M, khususnya lembaga pendidikannya sebagaimana terlihat di Samudra Pasai dan Malaka, sastra Parsi dan bidang intelektualnya secara umum sedang menapak puncak perkembangannya, sedangkan sastra Arab mengalami kemunduran. Penyebarannya ke dunia Islam bagian timur pula dimungkinkan oleh perpindahan agama penguasa dan bangsa Mongol dari Buddha ke Islam. Penguasa Mongol di bekas kekhalifatan Baghdad bahkan tampil menjadi pelindung kebudayaan Islam dan menggalakkan penyebaran kebudayaan Islam Parsi ke wilayah di sebelah timur, seperti India yang melalui wilayah itu sampai pula ke Nusantara. Pada abad ke-15 M wilayah Parsi dikuasai oleh Dinasti Timurid, yang sangat menggalakkan perkembangan kebudayaan dan kesusastraan. Saluran penyebaran kebudayaan dan sastra Parsi pada abad ke-16 M pindah ke India ketika Dinasti Mughal mulai berkuasa (Braginsky 1993, 1998; Zafar Iqbal 2006:20-55).

            Genre-genre yang berkembang dan digemari dalam sastra Parsi pada abad-abad tersebut, baik yang ditulis di Iran, Samarkand, Bukhara, dan lingkungan kesultanan Mughal di India, berkembang pula di kepulauan Melayu.  Epos, karya bercorak sejarah, syair-syair tasawuf dan keagaaan,  kisah-kisah perikehidupan Nabi Muhammad s.a.w. dan kisah para nabi yang disebut Qisas al-`Anbiya atau Surat al-`Anbiya, roman petualangan campur percintaan yang disebut pelipur lara adalah jenis-jenis sastra yang subur berkembang dalam sastra Parsi dan jenis-jenis sastra seperti itu pula yang awal sekai muncul dalam sastra. Sesudah itu muncul karya yang disebut adab, yaitu sastra mengenai pemerintahan dan politik seperti Taj al-Salatin, serta kitab perundang-undangan atau hukum kanun, yang juga subur di lingkungan terpelajar Parsi dan Mughal (Ibrahim Ismail 1989; Braginsky 1998, 2004).

            Kehadiran peranan penting ulama dan endekiawan Parsi yang berasal dari Iran dan Samarkand dicatat dalam sumber-sumber sejarah yang sezaman. Misalnya dalam kitab Rihlah yang memuat catatan perjalanan Ibn Batutah ke banyak negeri di Asia termasuk Samudra Pasai pada awal abadn ke-14 M. Dalam Sulalat al-Salatin (lebih dikenal sebagai Sejarah Melayu, sumber sejarah Islam Nusantara dari abad ke-16 M, dipaparkan bahwa Sultan Mamud Syah dari Malaka mengundang beberapa ahli tasawuf dan ulama yang berasal dari Khurasan Iran dan Iraq yang telah lama tinggal di Pasai. Mereka diminta mengajar tasawuf dan sastra Parsi (Abdul Hadi W.M. 2003).

            Dalam penyebaran agama Islam, peranan kisah berkenaan perikehidupan Nabi Muhammad s.a.w sangatlah penting. Ia dijadikan mata pelajaran di lembaga pendidikan Islam, dan disampaikan baik dalam bentuk prosa maupun puisi. Dalam bentuk syair yang dikenal paling awal ialah Qasidah Burdah karangan Syekh al-Busiri yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu pada abad ke-16 M. Dalam bentuk prosa lazim dikenal dengan judul  Hikayat  Nur Muhammad atau Hikayat Kejadian Nur Muhammad. Versi hikayat ini sangat banyak dalam bahasa Melayu, juga dalam bahasa Aceh, Minangkabau, Jawa, Sunda, Bugis, Madura, Sasak, dan lain-lain. Teks Melayu dan Nusantara lain yang awal meruakan ringkasan dari kitab Parsi Rawdat al-Ahsab. Bersama hikayat berkaitan dengan perikehidupan Rasulullah yang lain, seperti Hikayat Bulan Berbelah, Hikayat Nabi Mi`raj, Hikayat Nabi Bercukur, Hikayat Nabi Mengajar Anaknya Fatimah, Hikayat Nabi Mengajar Ali dan lain-lain, kitab ini menceritakan tanda-tanda kemuliaan dan keagungan Nabi Muhammad s.a.w. Suatu hal yang menarik karena pemaparan di dalamnya tidak jauh berbeda dengan pemaparan di dalamm kitab Tuhfat al-Mujahidin karangan Zainuddin al-Ma`bari (w. 1583 M) (Ismail Hamid 1983).

            Zainuddin al-Ma`bari adalah seorang sejarawan Parsi yang tinggal di Malabar, India Selatan. Dalam bukunya itu ia juga mengatakan bahwa  berhasilnya siar Islam di India dan Nusantara antara lain disebabkan oleh penggunaan sarana seni dan sastra, seperti pembacaan cerita kehidupan Nabi Muhammad s.a.w, khususnya yang dinyanyikan seperti Qasidah Burdah. Diceritakan pula oleh Zainuddin al-Ma`bari bahwa pada abad ke-16 M banyak sekali orang Parsi dari lapisan yang terpelajar datang ke India untuk berziarah kepuncak Adam di Srilangka. Setelah berziarah ke tapak kaki Nabi Adam itu tidak sedikit yng kemudian berlayar ke Sumatra untuk menyebarkan agama dan kebudayaan Islam. Tidak sedikit pula dari mereka yang menjadi guru agama dan bahasa Arab di lembaga pendidikan Islam. Merekalah yang memperkenalkan kitab-kitab karangan dua ahli tasawuf yang masyhur dari Parsi yaitu Abu Hamid al-Ghazali dan Abdul Karim al-Jili (Ibrahim Ismail 1989).

           Menurut penelitian Winstedt (1969:114) pada zaman Samudra Pasai telah disalin beberapa cerita berbingkai seperti Hikayat Bayan Budiman. Sumbernya ialah teks berbahasa Parsi yang merupakan saduran dari teks Sanskerta Sukasaptati. Sezaman dengan itu ditulis pula Hikayat Raja-raja Pasai. Pengaruh Parsi ketara daam corakpenulisannya, khususnya adegan-adegan peperangan atau pertempuran. Misalnya adegan tarung antara pahlawan Pasai Tun Berahim Bapa melawan pendekar dari Keling, tidak jauh berbeda dengan adegan tarung Rustam dan Sohrab dalam epos Shah-namah karangan Firdawsi, penulis masyhur Parsi abad ke-10-11 M (Hill 1960:41).

           Dalam koleksi Epernius ditemukan naskah-naskah Melayu abad ke-16 M yang ditulis di Aceh Darussalam. Naskah-naskah tersebut memuat hikayat-hikayat yang bersumber dari teks Parsi seperti Hikayat Yusuf, Hikayat Muhamad Ali Hanafiah, Kitab Nasih al-Mulk, dan bunga rampai terjemahan pusi Arab dan Parsi karya Abu Tammam, Omar Khayyam, `Attar, Sa`di al-Syrazi, Jalaluddin Rumi, dan lain-lain (Iskandar 1996:315-7). Bersebelahan dengan teks ini tedapat alegori sufi yuang disadur dari karya penulis Parsi Fariduddin `Attar (w.1220 M) yaitu Mantiq al-Tayr. Versi sadurannya dalam bahasa Melayu diberi nama Hikayat Si Burung Pingai, Andai-andai Si Burung Pingai, dan Hikayat Burung Berau-berau. Alegori yang sama mengilhami syair-syair tasawuf Hamzah Fansuri, khususnya ikat-ikatan yang diberi judul Syair Burung Pingai (Braginsky 1993).

           Dalam penulisan kitab keagamaan (sastra kitab) pengaruh Parsi juga kelihatan. Risalah-risalah-risalah tasawuf Hamzah Fansuri seperti Syarab al-`Asyiqin, Asrar al-`Arifin, dan Muntahi,  mengambil banyak rujukan dari teks-teks dan syair-syair tasawuf penulis Parsi seperti `Attar, Rumi, `Iraqi, Maghribi, Jami, dan lain-lain. Kitab fiqih karangan ulama Aceh abad ke-17 M Nuruddin al-Raniri Sirat al-Mustaqiem ditulis menggunakan sumber Syarh al-`Aqa`id al-Nashfiyah karangan ulama Parsi Sa`d alMas`ud al-Taftazani.  Kitab eksatlognya Akhbar al-Akhirah (1640) ditulis berdasar kitab Ihya` Ulumuddin Imam al-Ghazali dan Aja`ib al-Malakut Syeikh Ja`far dari Parsi. Dalam pemikiran tasawufnya tampak pula hubungannya dengan pemmikiran Suhrawardi (w. 1234) dan Abdul Karim al-Jili (w. 1428 M), selain Abu Hamid al-Ghazali, Sadruddin al-Qunawi, dan Ibn `Arabi.

           Pengaruh Parsi yang tidak kalah menonjol ialah dalam penyusunan kitab perundang-undangan seperti Undang-Undang Malaka dan Undang-undang Adat Aceh. Menurut Ibrahim Ismail (1989) banyak persamaan dalam kitab-kitab ini dengan perundang-undangan yang disusun di wilayah Parsi. Kembali ke Hikayat Kejadian Nur Muhammad.  Hikayat ini tampaknya telah popular di Nusantara pada abad ke-14 dan 15 M disebabkan kehadiran para sufi dari Parsi. Perkiraan ini tidak meleset karena teks-teks Melayu abad ke-16 M, khususnya syair-syair tasawuf Hamzah Fansuri yaang ditulis pada pertengahan abad yang sama, memaparkan topik ini dengan penuh semangat. Sebagai konsep sufi tentang asas kejadian alam semesta, gagasan tentang Nur Muhammad sangat dikenal terutama dalam teks-teks tasawuf yang ditulis oleh para sufi dari Parsi seperti Sahl al-Tustari, Mansur al-Hallaj, dan lain-lain . Dalam sastra Melayu hikayat ini dijumpai pula dalam teks-teks seperti Bustan al-Salatin, Daqa`iq al-Akbar, Qisas al-Anbiya’, Taj al-Mulkm dan lain-lain.

             Gagasan Nur Muhammad pertama kali dikemukakan oleh Ibn `Ishaq dalam bukunya Sirah Muhammad (Riwayat Nabi Muhammad s.a.w.) pada abad ke-8 M.  Berdasarkan pandangan tersebut, seorang ahli tafsir al-Qur`an akhir abad ke-8 M Maqatil menyebut Nabi Muhammad secara simbolik sebagai Siraj al-Munir (Pelita yang cahayanya berkilauan). Sebutan ‘pelita’ kemudian dihubungkan olehnya dengan simbol Cahaya (al-Nur) yang terdapat dalam al-Qur’an (Surah al-Nur) dan dikatakan bahwa simbol tersebut sangat dikenakan kepada Nabi dan r√≠zala ketuhanan yang dibawa oleh beliau. Melalui Nabi Muhammad, Cahaya Tuhan menerangi dunia dan melalui beliau pula umat manusia mendapat petunjuk atau cahaya untuk kepada Cahaya Asalnya (Schimmel  1985:124-5).

             Pengaruh Parsi tampak kuat dalam  cerita berbingkai seperti Hikayat Bakhtiar, Hikayat Bayan Budiman dan Hikayat Maharaja Ali.  Juga dalam sastra adab seperti Taj al-Salatin (1602 M) karya Bukhari al-Jauhari dan Bustan al-Salatin karya Nuruddin al-Raniri. Begitu juga dalam  epos seperti Syair Siti Zubaidah Perang Dengan Cina dan syair tasawuf seperti  Ikat-ikatan Bahr al-Nisa’ (anonim). Karya bercorak sejarah seperti Hikayat Raja-raja Pasai dari abad ke-14 M disusun mengikuti penulisan genre serupa dalam sastra Parsi (Braginsky 1999:324-5).

            Dalam karangan ini akan dibahas hanya beberapa karya yang mempunyai kaitan menonjol dengan tradisi sastra Islam Parsi seperti Taj al-Salatin, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Muhammad Hanafiyah dan, Hikayat Burung Pingai. Walaupun karya-karya ini dibicarakan juga dalam tulisan lain dalam buku ini, namun dalam karangan ini khusus dibicarakan unsur Parsinya saja. Unsur-unsur Parsi yang terdapat dalam karya-karya yang telah disebutkan itu  ada yang dalam bentuk puisi, seperti ruba’i, ghazal, matsnawi dan qit’ah, seperti ditemui dalam Taj al-Salatin dan Hikayat Amir Hamzah. Ada yang berkaitan dengan penggunaan simbol-simbol seperti burung (lambang jiwa atau ruh manusia) seperti dalam Hikayat Burung Pingai dan ada kalanya tampak dalam wawasan estetik yang mendasari penulisan karya-karya tersebut.

(Bagian II tentang Taj al-Salatin dan Hikayat Amir Hamzah).

Nota: Terima kasih buat Bapak Prof. Abdul Hadi W.M atas nota ini. Wassalam

1 comments :

AzizMostafa said...

Tulisan Jawi atau Pegon – Amat cantik
Digital Jawi kaligrafer — Wajib Dimiliki
http://sifoo.com/topic/315-taipset-jawi-dalam-word-indesign
http://70.32.105.174/files/MirEmad.pdf
kompatibel penuh untuk:
1. Word 2003+2007+2020 + Indesign Cs5 ++
2. Windows Xp + Vista +Windows 7
Semakin Terancam?! Semarak Jawi
http://70.32.105.174/node/74436

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
      faceblog © 2013 · re-designed by J. KingRaja           About · Advertising · Create a Page · Developers · Careers · Privacy · Terms · Faceblog Creator · Back to Top