ini bukan facebook

Jiwa Online
Pemilik Blog: Ampuan Awang  Berkhidmat dalam: Kerajaan Malaysia (Tukang Kebun). Mana tinggal? Di Kepala Batu, Antartika Edit Profile
  Post To:
anyone or anywhere  

Bingkisan Muharam 2: Taj Al-Salatin dan Hikayat Amir Hamzah

TAJ AL-SALATIN DAN HIKAYAT AMIR HAMZAH:

JEJAK PARSI DALAM SASTRA MELAYU (2)

Abdul Hadi W. M.


DALAM bagian II tulisan “Jejak Parsi Dalam Sastra Melayu” ini akan dipaparkan dua karya Melayu Parsi penting dari abad ke-15 dan 16 M, yaitu Hikayat Amir Hamzah dan kitab Taj al-Salatin (Mahkota Raja-raja, 1603) karangan Bukhari al-Jauhari. Bukhari al-Jauhari adalah putra Melayu Aceh keturunan saudagar batu permata dari Bukhara, Asia Tengah.

Baik Hikayat Amir Hamzah maupun Taj al-Salatin merupakan kitab yang luas pengaruhnya di lakangan masyarakat Muslim terpelajar Nusantara. Versi hikayat Amir Hamzah dijumpai sangat banyak dalam bahasa Aceh, Minangkabau, Melayu Palembang, Jawa, Sunda, Sasak, Madura, Bugis, Banjar dan lain sebagainya. Dalam sastra Jawa, Sunda dan Madura disebut Serat Menak. Sumber dari versi berbagai-bagai itu ialah teks dalam bahasa Melayu juga. Teks itu mula-mula disadur di Samudra Pasai, kemudian disempurnakan pada zaman Malaka dan disempurnakan lagi pada abad ke-17 di Aceh Darussalam.

Adapun Taj al-Salatin bukan hanya digemari oleh para pemimpin kerajaan-kerajaan Melayu sebagai kitab pedoman pemerintahan. Raja-raja Sunda dan Jawa juga sangat menyukai kitab ini. Dalam bahasa Jawa kitab ini mula-mula diterjemahkan oleh Yasadipura I pada masa pemerintahan Pakubuwana II, kemudian disalin berulang kali pada zaman berikutnya di kraton Surakarta dan Yogyakarta. Kita dahulukan pembahasan tentang Taj al-Salatin secara ringkas.

Taj al-Salatin

            Taj al-Salatin (Mahkota Raja-raja 1602 M) termasuk jenis sastra adab, yaitu karya yang memaparkan masalah adab termasuk masalah politik dan pemerintahan. Unsur Parsi sangat ketara dalam kitab ini. Pertama, seperti telah dijelaskan tampak dalam puisi-puisi yang disisipkan dalam fasal-fasalnya yang menguraikan hakikat manusia, keadilan dan kemuliaan akal budi. Kedua, fasal pertama dalam kitab ini menyatakan perlunya pengetahuan tentang diri dan dapat dirujuk kepada kitab al-Ghazali Kimiya-i Saadah. Kitab ini adalah ringkasan Ihya Ulumuddin yang oleh pengarangnya ditulis dalam Parsi, bukan dalam bahasa Arab seperti Ihya`. Kitab-kitab Parsi yang disebut oleh pengarangnya sebagai rujukan ialah Syiar al-Mulk atau Siyasah-namah (1092-1108 M) karangan Nizam al-Mulk, Asrar-namah (1188 M) karangan Fariduddin `Attar, Akhbar al-Mulk, Sifat al-Mulk, Sifat al-Salatin, Adab al-Umara dan Akhlaq Mahasin. Yang terakhir ini adalah  karangan Husayn Wais al-Kasyfi ( w. 1495 M), seorang penulis di istana sultan Mongol yang berkuasa di Parsi Timur. Uraian tentang sejarah didasarkan atas Kitab Mai` al-Tawarikh (Kitab Sejarah Dunia) yang ditulis untuk Sultan Mughal Humayun (1535-1556 M).

Ketiga, banyak sekali kata-kata Parsi digunakan seperti nawruz untuk tahun baru, begitu pula nama orang ditulis dalam lafal Parsi seperti misalnya Omar-i Abdul Aziz dan Muhammad Mustafa untuk Nabi Muhammad s.a.w.  Keempat,  wawasan estetik penulisannya seperti tampak pada bangunan karangan, juga meneladani karya-karya Parsi seperti Bustan (Kebun) dan Gulistan (Kebun Mawar)  karya Sa’di al-Syirasi, penulis abad ke-12 dan 13 M, dan Mantiq al-Tayr (Musyawarah Burung) karya Fariduddin al-Attar, penulis.abad ke-12 M. Dalam kitab-kitab tersebut uraian tentang suatu masalah dilengkapi dengan kisah-kisah dan disisipi puisi-puisi yang mengandung nasihat. Cerita-cerita sisipan itu sebagian besarnya bersumber dari sastra Parsi. Misalnya cerita Mahmud dan Ayaz, Khusraw dan Shirin, Raja Nusyirwan yang adil, dan lain sebagainya. Cerita dan puisi yang aneka ragam itu, beserta uraiannya tentang berbagai perkara, secara bersama-sama mengacu pada tema sentral yang tunggal. Dalam Taj al-Salatin tema sentralnya ialah keadilan.

Kelima, gaya bahasa TS juga merupakan turunan dari gaya bahasa kitab-kitab Parsi dan ini yang membuat bahasa Melayu yang digunakan dalam TS berbeda dari kitab-kitab Melayu lain yang ditulis berdasarkan gaya bahasa penulis-penulis Arab. Keenam, penulis kitab ini secara tersurat mengemukakan bahwa dalam bidang teologi ia menganut madzab Maturidiya, sedangkan kebanyakan orang Islam di Indonesia menganut faham Asy`ariya. Maturidi, pendiri madzab Maturidiya, berasal dari Parsi dan ajarannya banyak diikuti oleh Muslim Sunni di Asia Tengah dan Iran. Dalam menyusun pemikiran keagamaannya, faham ini menggunakan dalil naqli dan dalil `aqli sekaligus. Dalil naqli ialah metode menggali ajaran agama berdasarkan sumber-sumber tekstual al-Qur’an dan Hadis, sedangkan dalil `aqli menggunakan ikhtiar akal pikiran atau metode rasional. Faham Asy`ariya hanya mengggunakan dalil naqli dan kurang memperhatikan dalil `aqli. Itulah sebabnya penulis TS menempatkan akal dalam kedudukan tinggi dalam kitabnya. Adapun di bidang fiqih (hukum keagamaan dan yurisprudensi) Bukhari al-Jauhari menganut faham Hanafi, yang juga dianut Muslim Sunni di Iran, Turki dan Asia Tengah. Dalam menggali hukum Islam mereka menggunakan baik dalil naqli mauoun dalil `aqli. Di Indonesia sebagian besar orang Islam menganut faham Syafi’i, yang dalam menyusun hukum Islam hanya menggunakan dalil naqli (Ali Hasymi 1995:269-73, 275-80;  Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy 1997:171-81).

Penulis Taj al-Salatin sendiri tidak menyebutkan nama aslinya melainkan takhallus-nya yaitu Bukhari al-Jauhari. Kata Bukhari jelas menunjuk kepada Bukhara, ibukota kerajaan Khwarizmi pada abad ke-13 M, yang penduduknya berkebudayaan Parsi. Adapun nama al-Jauhari bisa jadi menunjuk pada tempatnya lahir di Johor atau asal-usul orang tuanya sebagai saudagar batu permata. Pada abad ke-16 M memang banyak cendikiawan Parsi dari Bukhara dan Samarqand pindah ke India dan Nusantara disebabkan satu dua hal, antara lain kekacauan politik di Asia Tengah. Perpindahan besar-besaran terutama terjadi pada zaman pemerintahan Abdullah Khan II (1557-1598 M). Dia melancarkan peperangan untuk mempersatukan negeri-negeri di Asia Tengah yang dahulunya merupakan dikuasai Timur Leng, seperti Maweranhahr, Khurasan dan Khwarizm. Pada masa itu ratusan cendekiawan Parsi pindah ke Delhi yang ketika itu berada dalam kejayaan di bawah pemerintahan Sultan Akbar (1556-1605 M) dan tidak kurang 50 sastrawan tedapat di dalamnya. Sebagian dari mereka kemudian pindah ke Aceh Darussalam, yang ketika itu sedang berada di puncak kejayaan dan sultan-sultannya mempunyai hubungan baik dengan sultan Mughal di India (Braginsky 1999).

Tetapi unsur Parsi yang paling menonjo ialah bentuk-bentuk puisi yang disisipkan dalam fasal-fasalnya, yaitu matsnawi, ghazal, qit’ah dan ruba’i.

Matsnawi. Bentuk sajak ini disebut ‘rhyming couplet’ artinya lebih kurang bait-bait bersajak.  Biasa digunakan untuk menuturkan kisah-kisah didaktis, kepahlawan dan percintaan, baik percintaan biasa maupun mistikal  (Arberry 1958:13). Walaupun tidak punya aturan ketat seperti bentuk puisi Parsi yang lain, juga tidak ditentukan jumlah barisnya, tetapi pada akhir tiap dua baris berurutan memiliki bunyi yang sama. Bentuk ini mulai diperkenalkan pada abad ke-12 M oleh dua penyair sufi Parsi yang masyhur yaitu Hakim Sana’i dalam karyanya Hadiqa al-Haqiqa dan Fariduddin al-`Attar dalam Mantiq al-Tayr. Tetapi yang menyempurnakan ialah penyair sufi abad ke-13 M, Jalaluddin al-Rumi (1207-1273 M) melalui karya agungnya Matsnawi-i Ma`nawi (Matsnawi Tentang Rahasia Ajaran Agama). Dalam sastra Melayu, khususnya dalam Taj al-Salatin, digunakan antara lain untuk memuji suatu perbuatan baik. Misalnya dalam contoh berikut ini:



                        Umar yang adil dengan perinya

                        Nyatalah pun adil sama sendirinya

                        Dengan adil itu anaknya pun dibunuh

                        Inilah adalat (keadilan, pen.) yang benar dan sungguh.

                        Dengan beda antara isi alam

                        Ialah yang besar pada siang dan malam.

                        Lagi pun yang menjauhkan segala syia

                        Imam al-Haqq di dalam padang mahsyar

                        Barang yang Haqq Ta`ala itu

                        Maka katanya sebenarnya begitu



                                                (Ismail Hamid 1983:132-3)



            Ghazal. Nama bentuk puisi ini memang berasal dari sastra Arab, tetapi digunakan dengan tujuan berbeda dalam sastra Parsi. Di dalam sastra Arab biasa dipakai untuk menulis sajak-sajak percintaan, tetapi dalam sastra Parsi dipakai terutama untuk mengungkapkan renungan-renungan filosofis dan kesufian (Abdul Hadi W. M 1998). Jumlah baris ghazal berkisar antara 4  hingga 14 baris, dengan pola sajak akhir AAAA atau AABB berselang-seling. Biasanya dalam ghazal penyair Parsi membubuhkan nama diri atau takhallus-nya (nama penanya) seperti tampak pada karya Sana`i atau `Attar (Arberry 1958:13)

Ghazal sangat digemari oleh penulis-penulis Muslim India, misalnya seperti tampak sastra Urdu dan Shindi. Tradisi ini dibawa ke India pada abad ke-14 M oleh seorang penyair Parsi terkenal Amir Khusraw. Di India biasanya ghazal terdiri dari empat baris dengan pola akhir sajaknya AAAA atau AABB. Dibuat empat baris agar mudah dinyanyikan, karena ghazal memang dibuat untuk dinyanyikan.

            Ruba’i. Kata ruba`i, berarti empat baris. Meskipun kata-kata ini berasal dari bahasa Arab, namun merupakan bentuk puisi khas Parsi. Dalam sastra Parsi, ruba’i (kata jamaknya ruba’iyat)  disebut dubaiti, puisi yang terdiri dari dua misra’ (rangkap, bait) dan setiap misra`  terdiri dari dua kerat atau baris, sehingga seluruhnya berjumlah 4 baris.  Pola sajak akhirnya beragam, bisa AAAA, namun kebanyakan AABA. Baris atau kerat ketiga berfungsi sebagai interpolasi. Dua baris pada rangkap pertama berisi gambaran  sesuatu atau skena, dan antara keduanya ada kesinambungan maksud. Baris ketiga memberi keseimbangan dan kadang merupakan kejutan, dan tak jarang pula sekedar jeda.Baris keempat berupa kesimpulan. Di sini penyair mengemukakan maksud sebenarnya dari apa yang ingin diungkapkan (Boyle 1975).

            Penyair pertama yang menggunakan bentuk ini ialah Rudaki (abad ke-10 M). Dia memperoleh ilham dari teriakan seorang anak kecil di jalan, yang pola rimanya indah. Rudaki lantas mengubah sajak yang kelak dikenal sebagai ruba’i. Bentuk sajak ini mencapai puncak kematangannya di tangan seorang seorang penyair yang ahli astronomi dan matematika, Umar al-Khayyami (1048-1131 M). Contoh ruba’i Umar al-Khayyami yang pola sajak akhirnya AABA, dan baris ketiga merupakan iinterpolasi, ialah seperti berikut:



In bahr-i wujud amada birun zi nihuft

                        Kas nist ki in guhar-i tahqiq bi-suft

                        Har kas sukhani azrar-i sauda guftand

                        Z-an ruy ki hast kas nam-i-damd guft



                                                             (Boyle 1975)



                        Lautan wujud mahaluas ini lahir dari kegelapan

                        Tak seorang tahu inti rahasianya di dalam

                        Tiap orang membual demi kepuasan dirinya

                        Namun siapa dia dan mengapa, tak seorang mau berkata



            Dalam sastra Melayu bentuk sajak ini dengan mengikuti bentuk aslinya dalam tradisi Parsi dijumpai khususnya dalam Taj al-Salatin. Contohnya:



                        Subhan Allah apa hal segala manusia

                        Yang tubuhnya dalam tanah jadi duli yang sia

                        Tanah itu kujadikan tubuhnya kemudian

                        Yang ada dahulu padanya terlalu mulia



Contoh lain lagi menggunakan pola sajak akhir AABA  ialah seperti berikut:



                        Dunia juga yang indah maka tercenganglah manusia

                        Sebab kadang ia terhina dan lagi termulia

                        Bahwasanya seseorang tiada kekal di dunia itu

                        Dalam dunia juga hidupnya sehari sia-sia







            Dapat pula dikemukakan di sini bahwa Syamsudin al-Samutra’i (w. 1630 M) menyebut syair-syair Hamzah Fansuri yang terdiri dari 4 baris dengan pola bunyi akhir AAAA sebagai ruba’i, yaitu dalam risalah kecilnya Syarah Ruba’i Hamzah Fansuri (Ali Hasymi 1975). Dalam beberapa syair Hamzah Fansuri memang kelihatan sedikit jejak ruba’i Parsi. Misalnya baris pertama dan kedua mengemukakan gambaran keadaan, baris ketiga interpolasi dan baris keempat kesimpulan atau maksud sebenarnya, seperti tampak dalam syairnya berikut ini:





            Hamzah Syahir Nuwi terlalu hapus

                        Seperti kayu sekalian hangus

                        Asalnya laut tiada berarus

                        Menjadi kapur di dalam barus



                               (Abdul Hadi W. M. 2001:402)



            Dengan demikian dapat dikatakan bahwa syair Melayu, puisi empat baris dengan pola sajak akhir AAAA, merupakan hasil transformasi yang begitu jauh dari ruba’i. Sebab Hamzah Fansuri dikenal sebagai penyair pertama di Dunia Melayu yang memperkenalkan bentuk syair Melayu dalam pengertiannya yang kita kenal sekarang ini (al-Attas 1972).

Kit`ah. Bentuk puisi rngkas atau epitaf yang populer baik dalam sastra Arab maupun dalam sastra Parsi. Arti kata kit`ah ialah potongan syair. Contohnya dalam Taj al-Salatin:



                        Jikalau kulihat dalam tanah

                        Ihwal kejadian insan

                        Tiadalah dapat kubedakan

                        Antara rakyat dan sultan

                        Fana juga sekalian yang ada,

                        Dengar Allah berfirman:

                        Kullu man `alayha fanin, artinya

                        Barang siapa di atas bumi lenyap jua



                                           (Khalid Husain 1966:24)


Hikayat Amir Hamzah

            Hikayat ini sangat popular di Nusantara. Berbagai versinya dijumpai dalam sastra Melayu, Jawa, Madura, Sunda dan lain-lain.  Versi cerita ini seperti yang dikenal hingga sekarang memang berasal dari sastra Parsi, bahkan versinya dalam bahasa Arab juga disalin dan disadur dari naskah Parsi. Versi-versi yang tertulis dalam bahasa Parsi antara lain Dastani Amir Hamzah, Qissah Amir Hamzah dan Asmar Hamzah. Sumber ilham cerita ialah Hamzab bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad s.a. w., lahir pada tahun 569 M. Pada awalnya Hamzah menentang ajaran Islam, tetapi kemudian menjadi penganut yang taat dan gigih memperjuangkan kebenaran risalah agama ini. Dalam Perang Uhud melawan pasukan Quraysh, Hamzah mati syahid. Kisah kepahlawanannya hidup terus dalam jiwa kaum Muslimin dan banyak kisah ditulis mengenai dirinya. Tetapi kemudian di Parsi kisahnya dicampur aduk dengan pahlawan lain yang juga bernama Hamzah bin Abdullah, yang hidup pada zaman Abbasiyah. Ketokohan Hamzah bin Abdullah sangat diagungkan oleh orang Parsi, yang berjuang menentang pemerintahan Abbasiyah di Baghdad (Ismail Hamid 1983:76-7).

            Sinopsis cerita: ”Setelah Amir Hamzah  masuk Islam, keberaniannya segera diketahui oleh kaum Muslimin.  Beliau dipilih menjadi kepala pasukan tentara untuk menaklukkan Yaman. Maharaja Nusyirwan dari negeri Parsi mendengar berita kepahlawanan Amir Hamzah ini. Dia diundang ke istananya di Madain. Di sana Smir Hamzah jatuh cinta kepada putri Muhrnigar. Bakhtik, wazir maharaja Nusyirwan sangat benci pada orang Arab. Dia merancang pembunuhan terhadap Amir Hamzah, yaitu dengan memberi syarat bahwa Amir Hamzah dapat menikahi sang putri apabila sanggup pergi ke Mesir, Rum dan Yunani untuk mengumpulkan upeti. Amir Hamzah menyanggupi syarat tersebut. Dia berangkat ke Mesir. Namun malang, di sana dia ditangkap polisi dan dimasukkan ke dalam penjara. Tetapi karena kelihaiannya, Amir Hamzah bisa melarikan diri dari penjara, kemudian mengembara ke berbagai negeri, terutama Asia Tengah. Setelah pulang dari pengembaraan, oleh maharaja Nusyirwan  dia diperbolehkan menikah dengan putri Muhrnigar.  Bakhtik tetap benci pada Amir Hamzah dan berusaha mengalahkannya. Mata Amir Hamzah dibuat buta. Tetapi Nabi Khaidir berhasil memulihkan penglihatan Amir Hamzah. Pada akhir cerita Bakhtik dibunuh oleh tokoh bernama Umar Umayyah. Setelah peristiwa itu Amir Hamzah memimpin pasukan memerangi raja-raja kafir dan menyebarkan agama  Islam. Tetapi malang sekali, Amir Hamzah akhirnya gugur ketika berperang dengan Raja Lahad.”

            Unsur atau ciri Parsi dalam hikayat ini tidak hanya terletak pada pencampur adukan dua tokoh yang hidup dalam zaman dan di negeri yang berlainan. Van Ronkel (1895:239-42) misalnya mengatakan bahwa pembagian bab dalam hikayat ini sama dengan dengan versi aslinya dalam bahasa Parsi. Begitu pula jalan ceritanya. Bahkan gambaran kepahlawanan Amir Hamzah dipengaruhi gambaran kepahlawanan Rustam, tokoh dalam epik Shah-Namah karangan Fiirdausi, pengarang Parsi abad ke-10 –11 M yang masyhur. Begitu pula ceritera tentang Gustehem Lohrast, Behram dan lain-lain diambil dari epik Firdausi itu (Liaw Yock Fang 1982:169).

Selain cerita mengenai Amir Hamzah sendiri, juga tedapat cerita tenytang kematian Hasan, gugurnya Husein di padang Kerbela setelah dikepung  dan dikeroyok tentara Umayyah serta kepalanya dipotong di pasar. Padahal Hasan dan Husein hidup dalam masa yang berbeda, baik dengan Hamzah bin Abdul Muthalib maupun dengan Hamzah bin Abdullah. Bahkan juga diceritakan tentang kematian Muhammad Hanafiya, putra Ali bin Abi Thalib yang ketiha dari istri seorang wanita Parsi.

            Unsur Parsi tampak pula pada sisipan puisi dalam bahasa Parsi. Misalnya  dalam  kutipan yang dikemukakan oleh Ibrahim Ismail (1989) berikut ini:



                        To cofti harankase ke, dar ranjo tab

                        Do`aye konad man konam mostajab

                        Cun ajez rahanande danam to-ra

                        Dar in ajez naxaham to-ra?


                        Kerap kau berkata: Siapa saja yang menyeruku

                        Karena sedih dan berduka, akan selalu kujawab

                        Sebab kutahu kau tak berdaya, dan bagaimana

                        Mungkinkah aku menampikmu hanya karena kau lemah?


(Lanjutan/sambungan : Hikayat Muhamad Ali Hanafiah atau Hikayat Hasan dan Husen)

Nota: Terima kasih buat Bapak Prof. Abdul Hadi W.M

0 comments :

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
      faceblog © 2013 · re-designed by J. KingRaja           About · Advertising · Create a Page · Developers · Careers · Privacy · Terms · Faceblog Creator · Back to Top