ini bukan facebook

Jiwa Online
Pemilik Blog: Ampuan Awang  Berkhidmat dalam: Kerajaan Malaysia (Tukang Kebun). Mana tinggal? Di Kepala Batu, Antartika Edit Profile
  Post To:
anyone or anywhere  

Perbezaan Sistem Gadaian Islam & Gadaian Konvesional

Oleh: Salbiah Sirat [Singapura]

Pengenalan dalam konsep system pengadaian Islam


A. PENGERTIAN PEGADAIAN SYARI’AH
Rahn adalah menjadikan barang sebagai jaminan atas hutang dan akan dijual bila tidak bisa memenuhi tangguhannya.
Dalam fiqh muamalah, perjanjian gadai disebut “rahn”. Rahn menurut bahasa berarti penahanan dan penetapan. Sebagaimana firman Allah SWT:

Artinya:” Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang Telah diperbuatnya, (QS. 74:38)
Adapun menurut istilah adalah perjanjian menahan sesuatu barang sebagai tanggungan hutang. Landasan hukum Rahn atau landasan pinjam meminjam dengan jaminan ( barang ) adalah firman Allah SWT:
Surat Al-Baqarah, ayat 283:
“ Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. dan barangsiapa yang menyembunyikannya, Maka Sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Landasan hukum lainnya adalah hadits Rasul SAW yang diriwayatkan oleh muslim dari Aisyah ra.
“Dari Aisyah berkata: Rasullulah SAW membeli makanan dari seorang yahudi dan menggadaikannya dengan besi”.
Dan hadist dari Anas ra.
“Dari Anas ra bahwasanya ia berjalan menuju Nabi SAW dengan roti dari gandum dan sungguh Rasullulah SAW telah menangguhkan baju besi kepada seorang Yahudi di Madinah ketika beliau mengutangkan gandum dari seorang yahudi”.
Landasan hukum lainnya adalah Ijma’ Ulama atas hukum mubah ( boleh ) perjanjian gadai.
Unsur – unsur rahn adalah:
a. orang yang menyerahkan barang gadai disebut ‘rahin’,
b. Orang yang menerima barang gadai disebut ‘murtahin’,
c. Barang yang digadaikan disebut ‘marhun’, dan
d. Hutang disebut ‘marhun bih’.

Petikan dari buku Pasaribu, Chaeruddin, “Hukum Perjanjian dalam Islam” , Jakarta : Sinar Grafika, 1994
Dalam konsep hutang gadai dalam Islam dalam pengertian saya adalah membantu saudara yang susah, tapi bergantung pada keadaan dari segi pengadaian dan pinjaman bagaimana yang harus diberikan dan apa yang patut diberikan. Dalam segi mengikut syariat, tiada laraangan dalam pengadaian Cuma harus jauhi riba’ dan jangan pula membebankan. Dalam implikasi dalam konsep pengadaian Islam ini tidak membebankan apalagi ditiadakan riba’ atau bunga didalamnya tidak seperti pengadaian konvensional yang harus dikenakan berapa interest dan bayaran yang ditetapkan. Disini kita difahami secara terperinci tentang konsep pengadaian Islam ini adalah terjamin.
NILAI POSITIF GADAIAN

1) Membolehkan orang yang sedang kesempitan wang mendapatkannya dengan cara yang bersih dan di bolehkan oleh syarak.
2) Menjadi jaminan bagi hutang sekiranya orang yang berhutang tidak dapat menjelaskan hutangnya.
3) Memberi keyakinan terhadap pemberi hutang dalam mendapatkan kembali wang yang telah dihutangkan.
4) Mengelakkan sebarang perbalahan antara pemberi hutang dengan orang yang berhutang sekiranya hutng tidak dapat dilangsaikan.Memberi dorongan kepada orang yang berhutang agar membayar hutangnya bagi mendapatkan kembali barang yang menjadi barang gadaian.


HUKUM RAHN
Ar-Rahn merupakan mashdar dari rahana-yarhanu-rahnan; bentuk pluralnya rihân[un], ruhûn[un] dan ruhun[un]. Secara bahasa artinya adalah ats-tsubût wa ad-dawâm (tetap dan langgeng); juga berarti al-habs (penahanan). [Ibn Muflih al-Hanbali, al-Mubdi', IV/213, al-Maktab al-Islami, Beirut. 1400 ; Muhammad bin Ahmad ar-Ramli al-Anshari, Ghâyah al-Bayân Syarh Zabidi ibn Ruslân, I/193, Dar al-Ma'rifah, Beirut. tt; Abu Abdillah al-Maghribi, Mawâhib al-Jalîl, V/2, Dar al-Fikr, Beirut, cet. ii. 1398]
Secara syar‘i, ar-rahn (agunan) adalah harta yang dijadikan jaminan utang (pinjaman) agar bisa dibayar dengan harganya oleh pihak yang wajib membayarnya, jika dia gagal (berhalangan) menunaikannya.
Ar-Rahn disyariatkan dalam Islam. Allah Swt. berfirman: “Jika kalian dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai), sementara kalian tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).” (TQS al-Baqarah [2]: 283).
Aisyah ra. menuturkan: “Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan tempo (kredit) dan beliau mengagunkan baju besinya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Anas ra. juga pernah menuturkan: “Sesungguhnya Nabi Shalallahu alaihi wasalam pernah mengagunkan baju besinya di Madinah kepada orang Yahudi, sementara Beliau mengambil gandum dari orang tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga Beliau.” (HR al-Bukhari).
Ar-Rahn boleh dilakukan baik ketika safar maupun mukim. Firman Allah, in kuntum ‘alâ safarin (jika kalian dalam keadaan safar), bukanlah pembatas, tetapi sekadar penjelasan tentang kondisi. Riwayat Aisyah dan Anas di atas jelas menunjukkan bahwa Nabi Shalallahu alaihi wasalam melakukan ar-rahn di Madinah dan beliau tidak dalam kondisi safar, tetapi sedang mukim. [QS al-Baqarah ayat 283 menjelaskan bahwa dalam muamalah tidak secara tunai ketika safar dan tidak terdapat penulis untuk menuliskan transaksi itu maka ar-rahn dalam kondisi itu hukumnya sunnah. Dalam kondisi mukim hukumnya mubah. Lihat: Atha' bin Khalil Abu ar-Rasytah, Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr (Sûrah al-Baqarah), hlm. 437-438, Dar al-Ummah, Beirut, cet. ii (mudaqqiqah). 2006.]
Imam Al Qurthubi mengatakan : “Tidak ada seorangpun yang melarang Ar- Rahn pada keadaan tidak safar, kecuali Mujahid, Al Dhahak dan Dawud (Ad Dzohiri) [AbhatsHai'at Kibar Ulama 6/107]. Demikian juga Ibnu Hazm.
Adapun Ibnu Qudamah, beliau mengatakan : Diperbolehkan Ar-rahn dalam keadaan tidak safar (menetap) sebagaimana diperbolehkan dalam keadaan safar (bepergian).
Sedangkan Ibnul Mundzir mengatakan : Kami tidak mengetahui seorangpun yang menyelisihi hal ini kecuali Mujahid. Menurutnya, Ar-Rahn tidak ada kecuali dalam keadaan safar, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).
Dalam keadaan demikian, para ulama berselisih dalam dua pendapat.
Pendapat Pertama : Tidak wajib baik dalam perjalanan atau mukim. Inilah pendapat Madzhab imam empat (Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah dan Hambaliyah).
Ibnu Qudamah: berkata Ar-rahn tidaklah wajib. Kami tidak mengetahui orang yang menyelisihinya. Karena ia (Ar-Rahn) adalah jaminan atas hutang sehingga tidak wajib seperti Dhimaan (jaminan pertanggung jawaban)” [Al Mughni 6/444] .
Dalil pendapat ini adalah dalil-dalil ang menunjukkan pensyariatan Ar-Rahn dalam keadaan mukim sebagaimana disebutkan diatas yang tidak menunjukkan adanya perintah sehingga menunjukkan tidak wajib. Demikian juga karena Ar-Rahn adalah jaminan hutang sehingga tidak wajib seperti halnya Adh-Dhimaan (Jaminan Pertanggung jawaban) dan Al Kitabah (penulisan perjanjian hutang). Disamping itu, juga karena ini adanya kesulitan ketika harus melakukan penulisan perjanjian hutang. Bila Al-Kitaabah tidak wajib maka demikian juga penggantinya.
Pendapat Kedua : Wajib dalam keadaan safar. Demikian pendapat Ibnu Hazm dan yang menyepakatinya. Pendapat ini berdalil dengan firman Allah:
“Artinya : Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang)”
Menurut mereka, kalimat “(maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang))” adalah berita yang rmaknanya perintah. Juga dengan sabda Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Semua syarat yang tidak ada dalam Kitabullah, maka ia bathil walaupun seratus syarat.” [HR Al Bukhari]
Mereka mengatakan: Pensyaratan Ar-Rahn dalam keadaan safar ada dalam Al-Qur’an dan diperintahkan, sehingga wajib mengamalkannya dan tidak ada pensyaratannya dalam keadaan mukim, sehingga ia tertolak.
Pendapat ini dibantah, bahwa perintah dalam ayat tersebut bermaksud bimbingan bukan kewajiban. Ini jelas ditunjukkan dalam firman Allah setelahnya : “Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya)” [Al-Baqarah ; 283].
Demikian juga pada asalnya dalam transaksi mu’amalah adalah boleh (mubah) hingga ada larangan, dan disini tidak terdapat adanya larangannya. [Abhats Hai'at Kibar Ulama 6/112-112]
Petikan dari sebuah artikel tentang pengadaian Islam.


Sekarang saya beralih pada konsep pengadaian secara konvensional.

Pada masa yang sama, peniaga pajak gadai tidak memulangkan wang lebihan selepas lelongan dan ditolak jumlah hutang. Tindakan ini ternyata menindas pengguna yang amat memerlukan wang tersebut.

Apabila peniaga pajak gadai didapati sewenang-wenangnya menindas pengguna yang kurang arif mengenai operasi pajak gadai, secara tidak langsung ia membuktikan kelemahan Gadaian Konvensional.
Antara kelemahan yang dikenal pasti ialah tiada undang-undang yang mewajibkan peniaga menunjukkan kadar faedah yang ditetapkan di tempat terbuka dengan jelas atau menerangkan kepada penggadai yang buta huruf kerana perniagaan pajak gadai tidak dipantau dengan ketat.
Tiada undang-undang yang menetapkan kawalan atau peraturan terhadap acara melelong barang gadaian yang tidak ditebus. Malah tidak dinyatakan waktu dan tempat lelongan diadakan. Barang gadaian yang hendak dilelong juga tidak dipamerkan

Terdapat beberapa keadaan yang berat sebelah dan tidak adil kepada peminjam. Antaranya ialah:
Kadar faedah tinggi iaitu 2% sebulan atau 24% setahun, jauh melebihi kadar pasaran.
Barang kemas yang digadai, samada cincin, gelang atau rantai, biasanya tidak ditimbang atau diukur. Banyak kes berlaku di mana barang kemas yang digadai itu lebih ringan atau pendek sedikit apabila ditebus. Mungkin peniaga pajak gadai sudah kikis sedikit emas daripada barang itu. Oleh kerana berat dan panjang barang itu tidak dicatat dalam resit, peminjam sukar mempertikai penyelewengan pekedai.

Andai peminjam gagal menebus dalam tempoh yang ditetapkan, peniaga pajak gadai berhak melelong barang yang digadai. Bagi barang yang tinggi nilainya, peniaga pajak gadai tidak boleh melelong sesuka hati malah perlu ikut beberapa peraturan termasuk melantik pelelong berlesen untuk melakukan lelongan. Tapi banyak juga kes peniaga pajak gadai dan pelelong berlesen berpakat di mana peniaga itu dapat membeli semula barang lelongan tersebut pada harga terendah.


Pemegang gadaian boleh mendapatkan semula resit secara percuma apabila memohon penangguhan tetapi ada yang mengambil kesempatan dengan mengenakan bayaran untuk setiap salinan resit gadaian yang seterusnya.
Mereka berani mengambil kesempatan kerana tidak ada undang-undang yang mewajibkan pemberian resit bagi barang yang telah digadai kecuali pemegang yang perlu menyerahkan surat pajak gadai sahaja.

Enam bulan adalah tempoh pajakan yang singkat jika jumlah pinjaman yang dibuat adalah besar dan penggadai terdiri daripada golongan miskin dan berpendapatan rendah. Pada masa yang sama, penggadai turut dibebankan dengan kadar faedah yang tinggi kerana perniagaan pajak gadai memerlukan modal yang besar.
Dari segi menamatkan kontrak gadaian, barang gadaian akan diserahkan apabila penggadai telah melunaskan hutang kepada pemegang gadai. Sekiranya penggadai tidak mampu membayar hutang yang diambil, apabila tamat kontrak, dengan kebenaran hakim pemegang gadai boleh melelong barang tersebut dan ia hanya boleh meletakkan harga barang tersebut sebanyak hutang yang dikenakan.
Selain itu, kontrak juga boleh berakhir dengan pelupusan hutang (ibra’) iaitu pemegang gadai bersetuju menghapuskan hutang dengan memulangkan semua barang tersebut tanpa membayar hutang.

Ramai peniaga pajak gadai tidak memulangkan wang lebihan selepas lelongan dan ditolak jumlah hutang. Ini satu penganiayaan terhadap peminjam.
Jika berlaku rompakan, kebakaran atau malapetaka ke atas kedai pajak gadai sehingga menyebabkan barang gadaian hilang atau rosak, peniaga pajak gadai hanya perlu membayar jumlah cagaran yang ditambah 25% lagi kepada peminjam sebagai pampasan. Ini tentu tidak memadai dan tidak adil tetapi inilah yang diperuntukkan dalam undang-undang yang sedia ada.

Penutupan:-

Kesimpulannya, barang gadai adalah milik orang yang menggadaikannya. Namun bila telah jatuh tempo, maka penggadai meminta kepada Murtahin untuk menyelesaikan permasalah hutangnya, dikarenakan hutangnya yang sudah jatuh tempo, harus dilunasi seperti hutang tanpa gadai. Bila Rahin dapat melunasi seluruhnya tanpa (menjual atau memindahkan kepemilikian) barang gadainya, maka Murtahin harus melepas barang tersebut. Adapun bila Rahin tidak mampu melunasi seluruhnya atau sebagiannya, maka wajib bagi orang yang menggadaikan (Ar-Rahin) menjual sendiri barang gadainya atau melalui wakilnya, dengan izin dari Murtahin, dan dalam pembayaran hutnganya didahulukan Murtahin atas pemilik piutang lainnya. Apabila penggadai tersebut enggan melunasi hutangnya dan tidak mau menjual barang gadainya, maka pemerintah boleh menghukumnya dengan penjara, agar ia menjual barang gadainya tersebut.

Apabila tidak juga menjualnya maka pemerintah menjual barang gadai tersebut dan melunasi hutang tersebut dari nilai hasil jualnya. Demikianlah pendapat madzhab Syafi’iyah dan Hambaliyah. Adapun Malikiyah, mereka memandang pemerintah boleh menjual barang gadainya tanpa memenjarakannya dan melunasi hutang tersebut dengan hasil penjualannya. Sedangkan Hanafiyah memandang, Murtahin boleh menagih pelunasan hutang kepada penggadai dan meminta pemerintah untuk memenjarakannya, bila tampak pada Ar-Rahin tidak mau melunasinya. Pemerintah (pengadilan) tidak boleh menjual barang gadainya, namun memenjarakannya saja, sampai ia menjualnya dalam rangka menolak kedzoliman.[ Al Fiqh Al Muyassar hal 119]

Yang rajih, pemerintah menjual barang gadainya dan melunasi hutangnya dengan hasil penjualan tersebut tanpa memenjarakan sang penggadai tersebut, karena tujuannya adalah membayar hutang, dan tujuan itu terwujud dengan menjual barang gadai tersebut. Juga untuk mencegah adanya dampak negative di masyarakat dan lainnya, jika diberlakukan penjara. Apabila barang gadai tersebut dapat menutupi seluruh hutangnya, maka selesailah hutang tersebut. Namun bila tidak dapat menutupinya, maka penggadai tersebut tetap memiliki hutang sisa, antara nila barang gadai denan hutangnya dan ia wajib melunasinya.

Demikianlah keindahan Islam dalam permasalah gadai. Penyelesaian dan pelunasan hutang dilakukan secara adil. Tidak seperti yang dilakukan di tengah masyarakat kebanyakan. Yakni terjadinya tindak kezhaliman yang dilakukan pemilik piutang, dengan cara menyita barang gadai, walau nilainya lebih besar dari hutangnya, bahkan mungkin berlipat-lipat. Perbuatan semacam ini, sangat jelas merupakan perbuatan Jahiliyah dan perbuatan zhalim yang harus dihilangkan. Semoga kita terhindar dari perbuatan ini.


Diluas sebarkan kembali oleh: Ampuan Awang
** Terima kasih kepada sdr Salbiah Sirat kerana menanda aku di laman 'kitab wajah' bagi artikel yang berguna ini...

0 comments :

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
      faceblog © 2013 · re-designed by J. KingRaja           About · Advertising · Create a Page · Developers · Careers · Privacy · Terms · Faceblog Creator · Back to Top